Save Prambanan

Home » Tanggapan Publik » Menolak Konspirasi Monster Kapitalisme dan Siluman Birokrasi Budaya di Kawasan Pusaka Dunia Prambanan

Menolak Konspirasi Monster Kapitalisme dan Siluman Birokrasi Budaya di Kawasan Pusaka Dunia Prambanan

Categories

Tanggapan Agustinus Wahyono / Gus Noy (Anggota IAI cabang Balikpapan dan Alumni Arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta)

Meski tulisan ini mbeling, saya tetap serius mencintai pusaka leluhur Indonesia. Apalagi ketika hari Sabtu, 06/04/2013, inbox FB saya mendapat undangan dari Badan Pelestari Pusaka Indonesia (BPPI). Dalam pesannya tertulis :

Pelestarian Pusaka

Undangan Dukung Petisi “Tolak Rencana Pembangunan Hotel Konvensi di Kawasan Pusaka Dunia Prambanan” #SavePrambanan

https://www.change.org/petitions/tolak-rencana-pembangunan-hotel-konvensi-di-kawasan-pusaka-dunia-prambanan?share_id=AhEtoVxOyj&utm_campaign=friend_inviter_chat&utm_medium=facebook&utm_source=share_petition&utm_term=permissions_dialog_false

Dengan tanpa menunggu instruksi dari para pakar budaya atau siapa pun mereka, saya, secara pribadi, MENDUKUNG PETISI untuk MENOLAK rencana pembangunan Hotel Konvensi di kawasan pusaka dunia Prambanan.

Adapun ALASAN saya adalah sebagai berikut :

1) Kawasan pusaka dunia, dalam hal ini adalah Prambanan, haruslah bersih dari segala aktivitas kapitalisasi dunia, yang cenderung menjadikan apa pun, bahkan manusia, sebagai obyek/tambang uang bagi monster kapitaslisme. Prambanan bukanlah obyek kapitalisme, melainkan situs warisan budaya tradisional yang sejak semula (esensialitas-substansialitas-filosofi) dibangun bukan diperuntukkan bagi aktivitas kapitalisme. Kawasan pusaka bukanlah kawasan kapitalisme.

2) Kawasan pusaka merupakan kawasan masyarakat tradisional secara kultural-spiritual. Aktivitas monster kapitalisme dalam bidang akomodasi-fasilitas penginapan merupakan aktivitas modern, yang seringkali merusak tatanan sosial-kultural masyarakat. Sedikit saja monster kapitalisme diberi kesempatan/peluang, langsung ia akan menggerogoti lantas mengacau esensialitas-substansialitas kawasan tradisional itu.

3) Dalam segi tata ruang, harus ada pembatasan yang jelas-tegas antara ruang budaya-tradisional dan ruang bisnis-kapitalisme. Para pelaku budaya-tradisional masa itu mampu memisahkan antara kepentingan spiritual dan material sehingga masyarakat masa kini tetap bisa menyaksikan kelangsungan hidup budaya tersebut dan, diharapkan, mampu melestarikan pusaka/warisan sejarah nasional sebagai bukti kehebatan budaya masa lampau. Sedangkan para pelaku bisnis-kapitalisme berkecenderungan agresif, ganas, bengis-sadis, rakus, dan brutal. Menghidupkan kegiatan kapitalisme dalam kawasan pustaka, sama saja dengan menghidupkan kanker dalam tubuh budaya. Kecenderungan kapitalisme adalah membunuh budaya tradisional.

4) Penataan ruang-ruang secara skalasitas massa-massa (gubahan massa) bangunan, harus tetap mengacu pada ketentuan jarak jangkau pandangan yang semestinya. Ada jarak yang tepat dalam rumus pandangan berskala tertentu, antara kawasan pusaka (tradisional) dan kawasan penginapan modern. Dalam pendidikan arsitektur, skala tersebut sudah diajarkan, yakni jarak terbaik antara manusia (wisatawan, turis, pelancong, dsb) dan kawasan obyek wisata. Pihak pemerintah harus memiliki tenaga ahli arsitektur yang mumpuni, jika memang benar-benar berniat-beritikad melestarikan kawasan pusaka.

5) Rencana pembangunan hotel tersebut merupakan bukti bahwa pihak pemerintah dan pengusaha hotel sama sekali tidak mampu menghargai kawasan pusaka dunia Prambanan, melainkan hanya pada satu tujuan, yakni profit sesaat (kapitalisme). Pihak pemerintah sama sekali tidak memiliki tenaga ahli kepusakaan dan arsitek mumpuni yang merupakan bagian dari birokrasi berkualitas. Gagasan mereka bukanlah gagasan yang sungguh-sungguh menghargai warisan budaya, melainkan hanyalah berkeinginan mendapatkan keuntungan (profit) bagi kalangan mereka sendiri. Kalau monster kapitalisme secara terang-terangan berkepentingan material-profit, tidaklah pantas hal tersebut menjadi tujuan utama birokrasi.

6) Apabila rencana tersebut tetap dipaksakan, itu sudah masuk kategori perusakan pusaka atau warisan budaya Indonesia. Yang paling bertanggung jawab dalam perusakan budaya itu adalah pemerintah, selaku birokrasi yang menentukan boleh-tidaknya kawasan pusaka disusupi monster-monster kapitalisme. Oleh karenanya, tindakan pemerintah yang gegabah ini sudah pasti berbahaya sekaligus bencana bagi pelestarian budaya Indonesia dan dunia.

Demikian alasan fundamental saya MENDUKUNG PETISI untuk MENOLAK rencana pembangunan Hotel Konvensi di kawasan pusaka dunia, yang dalam hal ini di Prambanan.

Karena saya seorang kader GOLPUT sejati, secara langsung maupun tidak, saya sama sekali tidak memiliki kepentingan apa pun (materialis-politis)selain berpartisipasi secara aktif dalam pelestarian pusaka Indonesia. Apalagi posisi saya cukup jauh dari pulau Jawa, dan tidak pernah terjalin interaksi-konspirasi secara materialisme-profit dalam kegiatan pelestarian budaya Indonesia.

Inilah kontribusi saya sebagai warga negara Indonesia yang berjuang secara murni dan konsekuen. Warga negara yang baik bukanlah perusak warisan pusaka budaya leluhurnya. Warga negara yang baik bukanlah partisipan dalam perampokan warisan nenek-moyang. Jangan mengaku sebagai warga negara yang baik kepada saya, jika Anda merupakan anggota, baik aktif maupun pasif dalam komplotan perampok harta negeri sendiri.

Tak lupa pula kepada arsitek yang terlibat dalam perencanaan tersebut, saya menghimbau, Anda sudi kembali membuka diktat-diktat kuliah berkaitan dengan ilmu budaya, dan bangunan konservasi. Kembalilah merenung, dan meninjau motivasi hidup Anda. Kalau jaman kuliah dulu Anda hanya memikirkan target dan segera memperoleh profit berbukit-bukit, Anda tidak lebih dari penjual gambar yang sebenarnya tidak perlu sekolah sampai bergelar arsitek. Ilmu yang Anda peroleh bukanlah berguna bagi pelestarian budaya bangsa-dunia, melainkan demi memperkaya materi Anda. Secara konsep-filosofi arsitektural dalam penataan kawasan, Anda sudah dikalahkan oleh kepentingan materi (profit). Anda kelihatan kaya secara fisik tetapi miskin secara batin. Betapa miskinnya jiwa Anda. Sungguh miris-tragis hidup Anda.

*******

Balikpapan, 07/04/2013

Tulisan ini termuat di http://sosbud.kompasiana.com/2013/04/08/tulisan-mbeling-menolak-konspirasi-monster-kapitalisme-dan-siluman-birokrasi-budaya-di-kawasan-pusaka-dunia-prambanan-543898.html


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: